Kisah Azzam sang
Penjudi
Kriiiiing!!!....
Seorang pemuda tersentak dari tidurnya. Ia bedecak,
kemudian meraih sesuatu di meja kecil di samping kanan ranjangnya. Dan terlihat
jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, lalu meletakkannya pada tempat semula.
Pemuda itu kembali memejamkan matanya. Tapi apa yang
terjadi? Ia memikirkan mimpinya barusan. Ia mendesis sebal. Pemuda itu pun
bangkit dari tidurnya.
“Mimpi yang sama
lagi.” Ucapnya pada diri sendiri.
Ya.
Sudah sering sekali selama 2 tahun lebih terakhir ini, ia selau bermimpi hal
yang sama.
Pemuda itu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia langsung
beranjak mandi. Hampir setengah jam ia bersiap dan langsung menuruni tangga,
dengan setelan seragamnya yang rapi.
“Bi, papa kemana?” Tanya pemuda itu kepada pembantu
dirumahnya.
“Tuan sudah berangkat
den.” Jawab Bi Yati.
Pemuda itu hanya mengangguk. Setelahnya ia memakan
sarapan yang sudah disiapkan bibi Yati. Setelah selesai pemuda itu berdiri dan
berjalan menuju garasi rumahnya, rumah yang cukup besar dan mewah tapi yang
menempati hanya beberapa orang saja. Beberapa pembantu, tukang kebun, satpam,
dirinya dan juga ayahnya. Ayahnya adalah seorang pemilik salah satu perusahaan
terbesar di Indonesia.
Pemuda itu bernama Azzam Algantara, memiliki watak
dingin, cuek, sangat tertutup tapi ia sangat cerdas.
Azzam dari kecil kurang mendapatkan kasih sayang dari ayahnya yang selalu sibuk bekerja. Setiap malam ayah Azzam pulang kerumah besar itu lalu pagi sekali ia berangkat, bahkan Azzam tidak bisa bertemu dengan ayahnya karena terkadang keluar kota atau keluar negeri. Walaupun begitu ia tidak mempermasalahkannya hanya saja karena jarang bertemu ia tidak terlalu dekat dengan ayahnya. Namun setelah ibunya meninggal saat ia memasuki SMA sekitar 2 tahun lebih yang lalu karena penyakit leukimia atau kanker darah yang diderita. Salah satu alasannya juga karena ayahnya yang kurang peduli terhadap istrinya, ayahnya hanya selau mementingkan pekerjaan. Pekerjaan dan pekerjaan. Dulu ayah Azzam hanya mendiamkan dirinya, namun sekarang ayahnya berubah. Ia selalu melakukan kekerasan terhadap Azzam semenjak kepergian ibunya.
Selama 5 tahun ibu Azzam mengalami leukimia akut. Ibu Azzam selalu menutupi wajah yang terlihat sangat pucat itu akibat anemia dengan
memakai make up, ia menahan rasa sakitnya jika tiba-tiba datang dengan bersikap
seakan baik-baik saja dan selalu berupaya tersenyum didepan keluarganya. Hal
ini yang membuat Azzam merasa tidak berguna, sedih dan sering bermimpi saat ia
tidur bahwa penyebab semua itu karena ia tidak mengetahuinya sehingga tidak
bisa mendampingi dan merawat ibunya dengan baik.
Azzam semakin tidak menyukai ayahnya, ia sangat kecewa dan marah karena sikap ayahnya tersebut.
Semenjak itu juga Azzam mulai mengenal perjudian. Azzam salah memilih lingkungan pertemanan serta rasa penasaran atau keingintahuannya yang berlebihan dan sikap labil yang masih melekat pada dirinya disaat remaja.
***
Azzam berangkat menggunakan motor sportnya yang berwarna hitam.
Suara deru motor sport itu memasuki area parkiran SMA Mentari. Suara riuh kagum dari para kaum hawa terdengar saat sang pemilik motor itu membuka helm full facenya. Dan menampilkan wajah tampannya dengan rambut yang hitam pekat, alis yang tebal, mata hitam dan menyorot tajam, bibir merah, rahang tegas, tinggi, putih. Namun disayangkan, sikap dingin dan cueknya membuat para kaum hawa ingin mendekatinya selalu gagal.
Azzam turun dari motornya dengan tatapan datar yang biasa ia tunjukkan. Tas hitamnya dia sampirkan di bahu sebelah lalu berjalan menelusuri koridor menuju kelasnya XII IPA 2. Azzam memasuki kelasnya dan dia segera menuju bangku belakang pojok tempat duduknya.
Teet...teet...teet
Bel masuk pun berbunyi
Saat ini kelas Azzam memasuki pelajaran Kimia. Guru kimia itu menerangkan rumus-rumus setelah itu menuliskan 2 soal dengan soal yang berbeda di papan tulis putih.
“Ada yang bisa jawab soal ini?” Tanya guru itu.
“Saya bu.” Seru Azzam dan seorang gadis yang duduk tidak jauh darinya. Mereka serempak sambil mengacunkan tangan kanannya ke udara.
“Baiklah, kalian berdua maju kedepan.” Perintah guru itu.
“Cepat-cepatan.” Lanjutnya
Azzam dan gadis itu pun dengan serempak lagi beranjak
dari kursinya dan mulai berjalan kedepan. Mereka saling melirik sekilas. Azzam
mengerjakan soal nomor 1 sedangkan gadis disampingnya kebagian nomor 2. Setelah
5 menit berlalu, mereka berdua mengerjakan soal itu dengan sangat cepat.
Ya, mereka berdua sama-sama terkenal cerdas. Tapi entah kenapa susah sekali disatukan. Seakan mereka saling memusuhi.
“Sudah bu.” Serempak lagi.
“Saya selesai duluan.” Gadis itu berusaha memenangkan dirinya sendiri.
“Jelas jelas saya bu.” Bela Azzam.
Perdebatan itu pun terus berlanjut. Hingga sebuah perintah menghentikan keributan itu semua.
“Kalian saya jadikan ketua kelas dan wakil ketua kelas di semester akhir ini. Jadi saya harap kalian bisa bekerja sama. Dan tidak ada penolakan apapun.” Perintah guru itu sebagai wali kelas mereka.
Azzam berjalan gontai menuju bangkunya dan menghempaskan
bokongnya dikursi tersebut begitu saja. Begitupun dengan gadis itu.
Gadis itu bernama Asyifa Azzahra. Ia juga sangat populer di SMA Mentari karena kecerdasannya, dan ia juga berparas cantik. Asyifa dikenal oleh orang terdekatnya, ia sangat ceria, bersikap dewasa dan juga wanita sholehah.
Perlu dicatat, Azzam dan Asyifa jarang berbicara walaupun mereka sekelas dan menjadi idola di SMA Mentari, bahkan mereka tidak sudi berteman satu sama lain. Entahlah karena apa. Kecuali, jika ada urusan yang sangat penting barulah mereka berdua saling berbicara. Percayalah, hanya Asyifa cewek disekolah ini yang tidak tertarik dengan Azzam, namun mereka selalu dipasang-pasangkan.
***
Bel istirahat sudah berbunyi 5 menit yang lalu, Asyifa dan sahabat-sahabatnya sudah berada dikantin sekarang. Asyifa masih berdecak kesal dengan keputusan tiba-tiba dari wali kelasnya itu. Asyifa tidak menggubris pertanyaan pertanyaan para sahabatnya. Dia terus melahap makanannya. Hingga sampai suara dari TU menggelegar di semua kelas dan ruangan di sekolah.
Panggilan ditujukan kepada ketua kelas dan wakil ketua kelas sepuluh, sebelas dan dua belas, dimohon kehadirannya didepan ruang TU sekarang, terima kasih.
Asyifa berjalan kesal keruang TU. Dari arah yang berlawanan, Asyifa bisa melihat Azzam juga datang. Guru itu mulai mengabsen kehadiran ketua dan wakilnya setiap kelas masing-masing. Semua guru disekolah ini sudah mengetahui siapa Azzam dan Asyifa. Kesamaan yang mereka miliki, dan ketidakakraban mereka bahkan hampir semua guru ingin mendekatkan mereka.
“Pengumumannya adalah pada tanggal 21 April sekolah akan memperingati hari kartini, setiap siswa/siswi memakai baju adat daerah bebas serta mengadakan lomba menghias kelas. Dan pada tanggal 22 April, keesokannya akan diperingati hari bumi dengan bersih-bersih kelas dan area terdekatnya. Penilaian lomba dan kebersihan akan diambil pada tanggal 22 April mulai dari pukul 10.00 sampai selesai. Jadi kalian bisa mempersiapkan dan mencari barang-barang yang dibutuhkan dalam 2 hari dari hari ini. Dan lomba ini wajib diikuti semua kelas tanpa terkecuali.” Jelas guru kesiswaan itu.
Setelah pengumuman tadi itu,
mereka semua kembali kekelas masing.
***
Pukul 04.30
Sesampainya Azzam dirumah langsung menuju kamarnya dia pun melemparkan tasnya ke ranjangnya lalu dia pun membaringkan badannya diranjang itu. Dan Azzam pun terlelap.
Sekitar 15 menit yang lalu, Azzam terbangun dari tidurnya
dengan berkeringat dingin. Dia bermimpi tentang ibunya lagi. Azzam saat ini
sedang merasa kacau, hati dan pikirannya terus membuatnya menjadi tertekan.
Azzam segera bergegas membersihkan diri dan ia keluar dari rumah menggunakan
motor sport nya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju tempat yang selalu dikunjunginya
untuk meluapkan semua yang dirasakan.
Azzam pun sampai ditempat itu. Disana sudah terdapat teman-temannya yang berasal dari sekolah lain. Mereka selalu berkumpul dan melakukan dosa besar itu, yaitu berjudi. Sudah 2 tahun lebih Azzam ikut bermain judi, bahkan hampir setiap hari dia bermain. Ia selalu mengalahkan lawan-lawannya. Hingga mendapat julukan SANG DEWA JUDI, itu karena dia orang yang hampir tidak pernah kalah dalam bermain kartu. Namun tidak ada yang mengetahuinya, dan hanya dirinya juga yang tau alasannya mengapa mau melakukan hal yang dilarang oleh agama itu
Kali ini ada yang berbeda, sebelumnya mereka semua hanya bermain judi. Hingga tiba tiba orang orang disana semakin bertamabah dan sambil membawa botol botol yang ternyata berisi minum-minuman keras yang entah dari mana didapat. Dalam taruhan kali ini Azzam juga memenangkannya dan ia ditawarkan oleh teman-temanya minuman keras itu. Awalnya Azzam tidak mau. Namun karena rasa keingintahuan mencobanya dan paksaan dari teman-temanya yang mengatakan itu tidak apa- apa, akhirnya ia meminumnya bahkan sekarang ia sudah kehilangan setengah kesadarannya.
Azzam bergegas pulang sebelum benar-benar tidak sadar dan bisa menyebabkan ia dalam masalah.
Di lain tempat
Seseorang mencoba untuk menghubungi Azzam. Asyifa sudah berulang kali mengirimkan pesan dan menelponnya, namun satu pun tidak ada balasan. Dia melihat kearah jam, sekarang sudah menunjukkan pukul 07.50. Asyifa sangat dibuat kesal olehnya, karena mereka sudah merencanakan bahwa malam ini akan membeli keperluan kelas mengikuti lomba. Namun Azzam tak kunjung datang.
Asyifa memutuskan untuk mendatangi kediaman Azzam. Jarak rumahnya hanya beda kompleks, asyifa kompleks B dan Azzam kompleks A.
Ting nong ting nong
“Iya tunggu sebentar!” Ucap seseorang dibalik pintu, sambil mempercepat langkahnya.
“Cari siapa ya dek?” Tanya sesorang itu.
“Apakah ada Azzamnya? saya teman sekolahnya.” Jawab Asyifa.
“Oh..den Azzamnya sudah keluar dari sore tadi dek,” Kata orang itu, yang diketahui adalah pembantu dirumah Azzam.
“Bibi tahu dia pergi kemana?” Tanya Asyifa lagi.
“Saya kurang tau dek, tetapi den Azzam selalu pergi keluar sepulang sekolah. Pulang biasanya malam tidak pasti juga jamnya.” Jelas pembantu itu.
“Terima kasih ya bi,” Ucap Asyifa.
Asyifa pun meninggalkan rumah Azzam dan memutuskan untuk
membelinya sendiri dengan menaiki motor.
***
Asyifa melihat sesorang yang ia kenal dalam perjalanan pulang, dan arah yang dituju juga seperti mengarah rumah asyifa, ternyata dia adalah Azzam. Asyifa melihat Azzam sedang turun dari motornya dan Asyifa segera menghampirinya.
“Azzam!!” Panggil Asyifa.
Azzam hanya mengangkat alisnya.
“Kamu dari mana saja? Apa kamu lupa kalau kita harus membeli keperluan lomba? “ Tanya Asyifa.
Azzam hanya diam tak menanggapi pertanyaan Asyifa.
Asyifa mendengus kesal. Asyifa dapat mencium bau alkohol dan itu berasal dari Azzam.
“Apakah kau minum minuman keras? Sepertinya kau mabuk.” Tanya Asyifa menatap curiga.
Azzam beranjak masuk kedalam rumahnya. Asyifa pun mengerti, jika Azzam sedang dalam pengaruh alkohol.
“Apakah dia sedang ada masalah? Ia terlihat sangat berbeda seperti memendam sesuatu sendiri.” Batin Asyifa.
“huff...mengapa aku jadi memikirkannya!” gumamnya. Dan kembali pulang kerumahnya.
***
Sinar matahari memasuki indera penglihatannya. Perlahan
kelopak matanya terbuka. Pemuda itu meringkuk kedinginan, ia baru menyadari
bahwa semalam ia tidur dilantai. Kepalanya terasa amat pusing. Ia berkali-kali
mengerjapkan matanya untuk memfokuskan penglihatannya. Azzam menghembuskan
nafasnya kasar, ia sangat ingat apa yang terjadi semalam. Dengan cepat ia
bangkit segera masuk ke kamar mandi. Hampir 15 menit Azzam bersiap. Ia langsung
menuruni tangga dengan terburu-buru.
Azzam keluar dari pekaranagn rumahnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Dia menyalip mobil-mobil yang ada di depannya dengan lincah.
Sesampainya disekolah, Azzam langsung mencari gadis itu.
“Asyifa!” Panggil Azzam.
Dia menoleh kekiri. Azzam pun berlari menghampirinya.
“Aku mau bicara sama kamu!,” Pinta Azzam.
“mau bicarain apa?” Tanya Asyifa.
“Mending ditaman sekolah aja bicaranya,” Kata Azzam langsung berjalan pergi duluan.
Asyifa langsung mengikuti langkah Azzam yang berjalan sedikit lebih cepat darinya.
Sesampainya di taman sekolah, mereka pun duduk di sebuah kursi panjang.
“Aku ingin menjelaskan yang terjadi semalam.” Ucap Azzam.
Azzam pun menceritakan mengapa ia sampai lupa dan bertemu
Asyifa dengan keadaan seperti itu. Asyifa juga sesekali bertanya dan entah dari
mana Azzam mau terbuka dengan Asyifa. Hingga Azzam juga sampai menceritakan hal
hal yang ia lakukan dilarang oleh agama dan yang dialaminya setelah kepergian
ibunya. Asyifa sangat terkejut dan tidak menyangka dengan semua penjelasan Azzam.
Asyifa tidak bisa memungkirin, awalnya ingin melaporkannya kesekolah agar Azzam
diberi teguran supaya berubah. Tapi ia mengerti keadaan Azzam dan mengurunkan
niatnya karena Azzam mau memperbaiki dirinya.
Semenjak itu pun Azzam dan Asyifa menjadi sangat akrab. Asyifa terus memberikan nasihat dan arahan kepada Azzam. Sekarang Azzam pun lebih memperdalam mempelajari agama, dan terus mendekatkan diri pada sang maha pencipta.
***
Hubungan Azzam dan Asyifa pun sudah semakin erat walau sudah 7 tahun mereka selalu bersama. Dan sekarang hubungan Azzam dengan ayahnya juga sudah membaik, mereka sama sama saling memahami. Azzam dan Asyifa sudah menggapai cita-cita mereka. Asyifa sekarang sudah menjadi seorang dokter dan Azzam adalah pengusaha muda yang sukses sama seperti ayahnya itu. Akhirnya mereka pun menikah dan hidup bahagia bersama.
SELESAI

Komentar
Posting Komentar